Blog

  • Kemauan Melihat Yang Terbaik Pada Orang Lain

    7 Sikap Kiat Sukses Diterima Kerja-Bagian Kedua. Ketika kita sudah menyadari bahwa setiap manusia diciptakan secara unik, kemudian kita perlu mengetahui bahwasanya tidak ada satupun manusia yang hebat secara mutlak, begitupun  sebaliknya tidak ada satupun manusia yang lemah secara absolut, artinya setiap dibalik kehebatan seseorang pasti tersimpan pula sisi kekurangannya, dan dibalik setiap kekurangan seseorang pasti tersimpan kelebihannya.

    Secara sederhana manusia itu bisa digambarkan mirip dengan potongan-potongan puzzle,  di mana setiap potongan tidak ada satupun yang memiliki bentuk yang sama, semuanya memiliki bagian yang menjorok ke dalam atau kekurangan,  dan sekaligus  memiliki bagian yang menonjol keluar atau kelebihan, tetapi secara keseluruhan potongan puzzle itu bersifat saling melengkapi sehingga kalau disusun akan membentuk satu gambar yang sempurna.

    Sikap yang satu ini memang tidak secara langsung menjadi factor yang berpengaruh terhadap tujuan seseorang dalam mencari pekerjaan, namun attidude yang kemudian terbangun karena membiasakan berperilaku menghargai pihak lain akan tertangkap sebagai perilaku baik yang dapat memberi kesan positive dalam penilaian kepribadian oleh tim rekruitment

    Bagi orang-orang yang awas dan terlatih mata batinnya, mereka bisa melihat bahwa di kening semua orang selalu tertulis sebuah kalimat yang berbunyi “perlakukan kami sebagai orang penting”

    Masih ingatkah anda kapan terakhir kali anda mengucapkan terima kasih kepada pembantu di rumah, kapan  terakhir kali anda mengucapkan terimakasih kepada office boy di kantor, atau kepada tukang parkir yang telah membantu kita di mall. Jika karena alasan apapun anda belum melakukannya, maka mulailah dari sekarang  untuk menghargai sekecil apapun kontribusi yang telah di berikan orang lain kepada kita. Karena percayalah sikap yang demikian akan menjadi bagian dari penilaian attitude oleh tim recruitment, di semua bidang profesi.

    Baca artikel sebelumnya dan artikel berikutnya.

  • Sikap Percaya pada diri sendiri.

    7 Sikap Kiat Sukses Diterima Kerja-Bagian Pertama.  Bagian paling penting dan sekaligus paling fundamental untuk mencapai keberhasilan adalah SIKAP. Sikap dapat menjadi dasar untuk memperoleh berbagai keberhasilan, baik sukses secara materi, sukses dalam usaha, sukses membina keluarga, dan tentu saja termasuk sukses dalam memperoleh pekerjaan yang di inginkan.

    Mari kita simak sebuah ungkapan yang mengandung kebenaran universal berikut ini:

    “Tebarkanlah Sikap maka kita akan menuai Tindakan,  tebarkanlah Tindakan maka kita akan menuai Kebiasaan, tebarkanlah Kebiasaan maka kita akan menuai Karakter dan tebarkanlah Karakter maka kita akan menuai NASIB”

    Ungkapan tersebut akan terasa lebih mengena ketika kita membacanya dengan terbalik:

    “Nasib kita adalah buah dari Sikap kita, sehingga jika kita menginginkan Nasib Baik perbaikilah Sikap. Mana mungkin kita bernasib baik bila kita tidak pernah mereview sikap kita sendiri. Kita harus memastikan bahwa sikap kita benar-benar mendukung nasib baik yang kita mimpikan, bukan malah sebaliknya sikap kita malah menjadi penghambat keberhasilan”

    Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan Sikap? Sikap atau Mindset adalah cara kita memandang atau melihat segala sesuatu secara mental. Refleksi daripada Sikap adalah Perilaku atau Behaviour. Jika diibaratkan sebagai tanaman, sikap adalah akar tanaman yaitu bagian yang tidak terlihat, sedangkan perilaku adalah batang tanaman yaitu bagian yang kelihatan secara kasat mata. Sikap dan Perilaku selalu sejajar dan sejalan, jika misalnya sikap kita pada satu hal adalah A maka perilaku kita pun akan A, jadi tidak akan pernah ada sikap A yang melahirkan perilaku B atau perilaku C.

    Ada 7 Sikap yang dimiliki oleh orang-orang yang sukses  baik di tingkat nasional maupun di tingkat global, sehingga  dengan memiliki 7 sikap berikut ini secara kualitas kita telah bergabung ke dalam komunitas eksklusif yang beranggotakan para juara di tingkat dunia,

    Lalu apa saja ketujuh sikap itu, mari kita bahas satu persatu, kita mulai dari sikap yang pertama yaitu Percaya pada diri sendiri.

    Salah satu Sikap penghambat keberhasilan adalah rasa kurang percaya diri, sikap negatip ini dapat terjadi kepada siapapun, baik orang kaya maupun  mereka yang hidup sederhana.  Sindrom, kurang pede, minder, adalah sifat negatip yang membuat orang menjadi kehilangan rasa percaya diri.

    Sering kita mendengar ada orang yang menjadi lebih Pede ketika berada di antara orang-orang yang berada di bawahnya, baik dari segi ekonomi maupun dari segi kedudukan, pede yang seperti itu tentu saja bersifat semu dan sementara,  karena begitu ia berada diantara orang-orang yang lebih unggul daripadanya,  perasaan pedenya  akan sirna,  tetapi sebaliknya ketika berada di antara orang-orang yang punya status dibawahnya, ia akan cenderung merasa puas dan arogan.

    Simak ungkapan Stephen Colbert seorang pembawa acara Talk Show di Amerika, yang sangat terkenal karena kepandaiannya dalam mewawancarai para tokoh top dunia.  Ketika dia ditanya apakah rahasianya sehingga mampu berinteraksi dengan lancar saat berhadapan dengan para tokoh elite dunia, Stephen Colbert menjelaskan bahwa; dirinya merasa telah di anugerahi Tuhan sebuah bakat unik, yang orang lain tidak ada yang memilikinya, maka setiap kali saya berhadapan dengan tokoh-tokoh hebat itu, saya selalu berpikir, para tokoh itu boleh hebat di bidang tertentu, tapi dalam hal menjadi host sebuah talk show saya jauh lebih hebat dari mereka.

    Itulah contoh daripada esensi rasa percaya diri yang sejati, sikap yang ada pada diri Stephen Colbert seharusnya dimiliki pula oleh semua orang, karena Tuhan sang pencipta sejatinya sudah memberikan kepada satu per satu dari kita sebuah  bakat unik. Hal ini terbukti dari adanya variasi DNA yang jumlahnya mencapai milyaran, namun tidak pernah ada DNA yang kembar, itulah gambaran keunikan kita, jadi siapapun Anda, kita semua memiliki satu bakat khusus yang tidak dimiliki oleh orang lain. Sebuah bakat yang sedang menunggu untuk kita temukan, yang kalau berhasil kita asah akan membawa kita pada level terbaik.

    Jika ilustrasi hebatnya potensi diri melalui gambaran DNA diatas masih belum cukup untuk meningkatkan rasa percaya diri,  mari kita simak kenyataan lainnya,  Tuhan telah mengijinkan kita untuk menjadi pemenang di saat proses kita terlahir kedunia. Bayangkan dari 300 sampai 400 juta sel sperma yang berebut untuk bisa menembus dinding sel telur hanya sperma kita satu  satunya yang berhasil membuahi sel telur hingga terbentuk janin, kemudian terlahir dan menjadi diri kita sekarang ini. Jadi  sepatutnya lah jika kita yakin bahwa kita memang hebat. Usir jauh-jauh sikap rendah diri, tunjukkan eksistensi kita apapun levelnya.

    Dalam hubungannya dengan memburu pekerjaan, tumbuhkan rasa percaya diri, jangan minder untuk tampil di komunitas bidang yang kita tekuni. Misalnya jika anda termasuk pengguna Linkedin yang dikenal sebagai mass media idolanya para profesional, lengkapi profile Anda  di Linkedin, tidak sedikit para pencari kerja yang terbantu mendapatkan pekerjaan dengan melengkapi data dirinya di Linkedin.

    Baca artikel berikutnya

  • Efek Own Shacking Pada Turbine Expander

    Efek Own Shacking Pada Turbine Expander

    Turbine expander adalah perangkat mekanis yang dipergunakan pada proses konversi gas dari phase gas menjadi phase cairan, Turbine expander dapat ditemukan dipabrik penghasil gas alam cair (LNG plant) dan dipabrik penghasil cairan Nitrogen, Oxigen dan Argon (ASU plant). Perangkat ini berfungsi untuk menurunkan suhu dengan cara mengembangkannya (expand), itulah sebabnya dinamakan EXPANDER. Energi yang dipulihkan dalam proses ekspansi kemudian digunakan untuk meningkatkan efisiensi keseluruhan system

    Turbine expander beroperasi berdasarkan prinsip ekspansi adiabatik. Dalam proses produksi LNG, gas alam pertama-tama didinginkan dan dikompresi sebelum dimasukkan ke dalam turbine expander. Ketika gas bertekanan tinggi memasuki turbine, gas tersebut mengembang dengan cepat, yang menyebabkan penurunan tekanan dan suhu. Ekspansi yang cepat ini menyebabkan  gas mengalami pendinginan lanjutan, hingga dicapai suhu yang mengubah phase gas menjadi phase cair.

    Sebagai  gambaran proses perubahan cepat tersebut, bisa kita ambil contoh kasus yang terjadi bila kita menusuk pentil ban sepeda yang bertekanan,   udara yang keluar dari ban akan terasa dingin karena udara yang bertekanan di dalam ban secara spontan dilepaskan ke tekanan atmosper.

    Gas yang di ekspansi pada expander turbine akan memutarkan sudu-sudu turbine, perputaran sudu kemudian di hubungkan dengan perangkat rotating seperti compressor atau generator. Pada LNG plant dan ASU plant expander dimanfaatkan untuk menggerakkan compressor, oleh sebab itu expander menjadi penting, tidak hanya sebagai pendingin tetapi juga sebagai alat untuk efesiensi energi.

    Tenaga utama penggerak turbin ekspander adalah ekspansi gas, ketika gas mengembang, gas tersebut mengalami penurunan tekanan dan suhu secara cepat. Ekspansi ini yang menghasilkan energi mekanik dalam bentuk tekanan dan energi kinetik, yang kemudian ditransfer ke sudu-sudu turbine. Saat gas mengalir melalui turbin, gaya dari ekspansi gas menyebabkan sudu turbin berputar. Gerakan mekanik rotor ini sepenuhnya digerakkan oleh energi dari gas, bukan oleh input listrik.

    Sudu-sudu turbin didesain sangat presisi agar dapat menangkap energi dari gas yang mengembang, yang umumnya berupa gas bertekanan tinggi yang masuk ke dalam turbin dan gas bertekanan rendah yang keluar. Hal ini lah yang menghasilkan rotasi rotor, yang kemudian dapat digunakan untuk menggerakkan peralatan lain  seperti kompresor.

    Karena turbin ekspander digerakkan secara mekanis oleh energi dari gas yang mengembang, turbin ini tidak memerlukan daya listrik untuk menjalankan operasinya. Fungsinya sepenuhnya bergantung pada dinamika fluida aliran gas, dan desain komponen-komponen  mekanis seperti sudu, bearing dan lain-lain. Jika saja ada komponen yang tidak normal seperti bentuk sudu yang berubah dari desain, maka sudah dipastikan pergerakan turbine akan terganggu, demikian pula jika debit fluida gas yang masuk ke expander  tidak sesuai desain, misalnya karena jumlah flow gas tidak mencukupi, maka sistim rotasi turbine akan terganggu.

    Bahkan ada phenomena negatip yang diakibatkan oleh aliran fluida yang kurang debit yaitu efek own shacking (vibrasi berlebihan yang terjadi pada turbine dan perangkat perangkat di sekitarnya). Adapun perangkat terkait yang sering terdampak adalah baud-baud pada sambungan pipa, akibat own shacking baud dapat menjadi kendor dan lepas, peralatan instrumentasi yang dipasang sepanjang jalur expander, seperti tubing untuk transmitter bisa menjadi kendur dan mengakibatkan kebocoran, control valve yang terpasang sepanjang jalur seperti JT valve berpotensi mengalami kerusakan akibat own shacking,  stem bisa patah, linkage lepas, gigi pressure gauge rontok dll. Solusi dari masalah ini tentu saja dengan mengatur aliran fliuida agar selalu sesuai dengan rekomendasi. Jangan sampai kurang dari jumlah aliran minimum yang di rekomendasikan.

  • Efek suhu pada level transmitter type Differential

    Efek suhu pada level transmitter type Differential

    Salah satu faktor penentu kualitas produk dalam proses industri adalah  sistim kontrol proses. Komponen yang terlibat dalam sistim control berdasarkan fungsinya di kelompokkan menjadi 3 kategori  yaitu komponen pengukur, komponen pengatur dan komponen indicator sebagai media monitoring. Contoh komponen pengukur adalah peralatan instrumentasi pendeteksi besaran proses, seperti pressure transmitter, temperature transmitter, level transmitter dll. Contoh komponen pengatur adalah contol valve, fin-fan, damper, pompa dll. Contoh komponen untuk monitoring yaitu, DCS, PLC, SCADA, HMI, RECORDER dll.
    Komponen pengukur adalah peralatan yang dipergunakan untuk mendeteksi kondisi proses, jadi komponen pengukur merupakan persyaratan  pertama dari keseluruhan  sistim control agar dihasilkan produk yang baik. Tidak peduli seberapa bagus bagian monitoring dan komponen pengaturan proses jika data yang dikirimkan komponen pengukur tidak akurat maka produk yang dihasilkan tidak akan sesuai dengan kualitas yang diinginkan.



    Dalam artikel ini admin akan menggunakan komponen pengukur berupa level transmitter tipe differential pressure transmitter sebagai objek pembahasan.
    Jika pembacaan level  terlalu rendah dibanding dengan kondisi level yang sebenarnya, tangki bisa meluap, menyebabkan hilangnya produk, membahayakan keselamatan, atau masalah lingkungan (atau ketiganya). Jika pembacaannya menunjukkan lebih tinggi daripada level yang sesungguhnya, dapat menyebabkan pompa bisa terbakar.
    Mendapatkan hasil pengukuran level yang akurat dan andal  adalah tujuan dari setiap perangkat pengukuran level yang baik. Ada banyak model alat pengukur level berdasarkan prisip kerjanya, namun model yang paling banyak digunakan adalah alat pengukur tekanan dengan metode tekanan diferensial. Penggunaan transmitter tipe  tekanan diferensial sebagai alat ukur level menggunakan prinsip yang mudah dipahami dan telah terbukti memiliki keunggulan dari segi harga dibandingkan dengan alat ukur level metode lainnya. Namun, pengukuran level dengan metode tekanan diferensial memiliki kekurangan yaitu adanya pengaruh suhu yang dapat berdampak negatif pada keakuratan pengukuran. Disini kemudian akan di terangkan, mengapa suhu berpengaruh dan bagaimana efek ini dapat dikurangi.
    Transmitter model differential  pressure bekerja dengan mengkonversi tekanan yang diukur menjadi satuan ketinggian, media yang diukur harus mempunyai massa jenis yang konstan (Specific Gravity). Jika transmitter menggunakan sinyal analog 4 hingga 20 mA, maka akan diatur sehingga sinyal 4 mA akan sesuai dengan tekanan saat tangki kosong (0% penuh) dan sinyal 20 mA akan sesuai dengan tekanan saat tangki penuh (100% penuh).

    Metode pengukuran level dengan transmitter type differential pressure membutuhkan tekanan referensi. Tekanan referensi yang disebutkan dapat berbeda berdasarkan desain tangkinya. Tangki ‘terbuka’ memiliki ventilasi ke atmosfer dan menggunakan tekanan atmosfer sebagai referensi. Dalam ‘tangki tertutup’, atau tangki bertekanan, referensinya adalah tekanan di dalam tangki bagian atas.
    ​Pada tangki tertutup, sisi trasmitter bertekanan rendah (istilahnya sisi Low transmitter) dihubungkan ke nosel bagian atas tangki, dan sisi transmitter bertekanan tinggi ( istilahnya sisi High transmitter ) di hubungkan ke nosel bagian bawah tangki. Perangkat penghubungnya yaitu berupa pipa instrument yang disebut tubing. Dengan tubing  koneksi antara tangki dengan transmitter ada yang dinamakan ‘wet  leg’, ada yang dinamakan ‘dry leg’. Model lain dalam menghubungkan tangki ke transmitter adalah dengan menggunakan  pipa lentur atau pipa kapiler.  Pipa kapiler diisi dengan cairan yang mentransfer tekanan dari diapraghma  ke sensor transmitter.

    Transmitter tipe differential yang ada di pasaran saat ini memiliki desain yang dapat memperhitungkan tekanan cairan yang ada pada  kapilernya. Namun, cairan pengisi kapiler ini jumlahnya  sangat kecil sehingga masih dapat dipengaruhi oleh suhu. Perubahan suhu pada cairan dapat menyebabkan perubahan densitas (SG) sehingga  tekanan head yang diukur oleh transmitter ikut berubah. Seperti disebutkan sebelumnya, densitas didalam kapiler harus stabil agar transmitter metode tekanan diferensial dapat digunakan.

    Efek suhu yang diterima oleh transmitter dapat terjadi karena beberapa hal, seperti diantaranya; kapiler sisi tinggi lebih pendek dibandingkan kapiler sisi rendah, kapiler sisi tinggi dan kapiler sisi rendah terpapar oleh panas matahari yang tidak merata, atau karena kapiler yang terlalu panjang. Semua efek negatif tersebut dapat diperbaiki dengan desain transmitter yang dirancang dengan baik, berikut ini adalah beberapa cara mengatasinya.

    Langkah untuk mengatasi efek suhu terhadap pengukuran level transmitter type differential pressure

    1.Kapiler di desain sama panjang dan mengaktipkan fitur kompensasi suhu.

    Industri telah menemukan cara berbeda untuk memperhitungkan kesalahan yang diakibatkan oleh kondisi ini. Hal ini disebabkan oleh perbedaan volume cairan pengisi pada masing-masing kapiler. Kapiler yang lebih panjang lebih terpengaruh dibandingkan kapiler yang lebih pendek. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan antara sisi tinggi dan sisi rendah. Bagaimana cara memperbaiki ketidak seimbangan? Cara pertama sederhana namun efektif. Cukup buat kedua kapiler memiliki panjang yang sama. Hal ini memungkinkan setiap kapiler untuk ‘merasakan’ suhu yang sama dengan volume cairan pengisi yang sama, sehingga menyeimbangkan efeknya. Metode kedua adalah dengan mempertahankan panjang kapiler yang berbeda tetapi mengubah diameter internal kapiler untuk menyeimbangkan pengaruh suhu. Kedua metode ini efektif. Metode pertama mungkin membutuhkan biaya lebih sedikit tetapi mudah untuk diterapkan. Metode kedua memerlukan sedikit pekerjaan teknis terlebih dahulu. Setelah kapiler di rancang sama panjang kemudian diaktipkan fitur kompensasi suhu, download disini untuk procedure mengaktipkan kompensasi suhu.

    2. Menggunakan sistim kapiler kompensasi.

    Perbedaan suhu antara dua koneksi proses pada tangki biasa, terutama di area dimana tangki-tangki besar banyak di tempatkan seperti di area tank farm, kondisi ini dapat menyebabkan posisi kaliper transmitter berada pada posisi yang berbeda ambient temperaturnya, misalnya satu sisi terkena pancaran langsung sinar matahari sedang sisi yang lainnya terlindung dari pancaran sinar matahari.  Seperti kita ketahui, akan ada perubahan suhu yang nyata antara sinar matahari langsung dan bayangan. Dalam hal kejadian seperti diatas, sistem penempatan transmitter perlu dirancang agar kedua kapiler “merasakan” suhu yang sama. Solusinya adalah dengan menambahkan kapiler referensi ke sistem. Kapiler referensi dipasang pada sisi rendah dan dibundel untuk berjalan di sepanjang kapiler sisi tinggi. Kapiler referensi ini ‘mentransmisikan’ suhu kapiler sisi rendah ke kapiler sisi tinggi. Kedua kapiler dan kapiler referensi akan mencapai kesetimbangan suhu, menghilangkan ketidakseimbangan suhu.

    efek suhu

    3. Menggunakan Electronic Remote Sensor  (ERS)™ System
    Semakin panjang kapiler, semakin besar efek suhu yang akan dialami sistem. Kapiler panjang contonya digunakan pada menara distilasi yang tinggi, evaporator, dan tangki tinggi lainnya. Meskipun metode yang disebutkan di atas dapat mengurangi efeknya, panjang kapiler menjadi terlalu panjang untuk metode ini. Level yang diukur menjadi tidak dapat digunakan karena ketidakakuratan. Beberapa perusahaan di pasar menawarkan sistem yang menggantikan kapiler dengan kabel. Sistem ini memiliki dua sensor tekanan yang berbeda, satu terletak di taping point tekanan tinggi dan satu lagi di sisi tekanan rendah. Kedua sensor berkomunikasi satu sama lain menggunakan kabel listrik. Kabel ini tidak terpengaruh oleh suhu. Sensor yang terletak di taping point proses tekanan tinggi menggunakan informasi dari sensor lain untuk menghasilkan sinyal keluaran untuk level tersebut. Sistem ini memang mempunyai kelemahan yaitu dari segi harga. Sistem ini menggunakan dua pemancar versus satu pemancar pada sistem segel kapiler biasa, sehingga harga menjadi dua kali lipat.

    efek suhu

    Kesimpulan
    Suhu dapat mempengaruhi akurasi level transmitter tipe differential pressure, namun solusi yang dirancang dengan baik dapat mengurangi efek ini. Sistim pengukuran dengan transmitter tipe differential tetap merupakan metode pengukuran yang terbukti hemat biaya, oleh karena itu transmitter ini akan tetap menjadi alat pengukur yang paling banyak di pergunakan. Kelebihan lainnya adalah metode ini memberikan pengukuran level yang akurat dan handal serta menyampaikan informasi tersebut ke komponen pengontrol dengan cepat.

  • Usaha pencegahan kecelakaan pada pabrik smelter

    Usaha pencegahan kecelakaan pada pabrik smelter

    Ledakan di salah satu pabrik nikel di Morowali Sulawesi yang terjadi di penghujung akhir tahun 2023 telah menjadi berita viral, banyak media masa dalam dan luar negeri yang memuat berita kecelakaan tersebut, sehingga istilah smelter pun menjadi kata yang banyak diperbincangkan di masyarakat. Untuk menambah perbendahaaran informasi mengenai smelter terutama dalam kaitannya dengan keselamatan kerja, Admin jasaservis membuat artikel yang mengupas bagaimana pabrik smelter beroperasi dan apa saja faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan di pabrik smelter.

    Smelter adalah pabrik peleburan di mana bijih metal yang di kenal dengan istilah ore dilebur dan dimurnikan untuk menghasilkan logam. Pencairan bahan-bahan di tungku peleburan merupakan proses inti daripada smelter, itulah sebabnya pabrik peleburan disebut smelter (pencairan). Ditungku peleburan bijih metal dibakar bersama dengan fluks, fluks adalah bahan kimia yang gunanya untuk mengikat kotoran yang ada pada bijih metal sehingga lelehan metal terpisah menjadi cairan logam murni yang di butuhkan dan cairan ampas metal yang diikat oleh fluks. Produk yang dihasilkan dari proses smelting dapat berupa berbagai logam tergantung daripada jenis orenya, yang sering kita temui adalah smelter untuk logam besi, nikel, tembaga, alumunium dan seng.

    pabrik smelter
    gb.1 Tungku pembakaran di pabrik smelter

    Karena melibatkan tungku pembakaran serta material pemicu ledakan seperti debu berkadar hydrocarbon, gas oxygen dan komponen kimiawi lain, maka pabrik smelter tergolong ke dalam industry yang memiliki resiko tinggi akan kebakaran dan peledakan. Untuk mencegah terjadinya ledakan tersebut diperlukan perhatian yang cermat terhadap langkah-langkah keselamatan. Berikut beberapa faktor yang dapat menyebabkan ledakan smelter dan cara menghindarinya:

    • Ledakan akibat debu:
      • Salah satu penyebab umum ledakan di pabrik smelter adalah adanya debu yang mudah terbakar. Ketika partikel halus logam atau bahan lain dalam proses peleburan tersuspensi di udara, material-material tersebut dapat membentuk campuran yang bisa meledak.
      • Untuk menghindari ledakan debu, penting untuk menerapkan langkah-langkah pengendalian debu yang efektif, diantaranya dengan memasang alat pengumpul debu otomatis, memasang sistem ventilasi yang baik, serta selalu menjaga kebersihan di area kerja.
    • Ledakan akibat reaksi kimia:
      • Reaksi kimia yang terlibat dalam proses peleburan dapat melepaskan gas yang mudah terbakar atau meledak. Gas hidrogen, misalnya, dapat dihasilkan selama proses ekstraksi logam tertentu.
      • Pemantauan dan pengendalian pelepasan gas, serta memastikan ventilasi yang baik, sangat penting untuk mencegah penumpukan konsentrasi bahan peledak.
    • Kerusakan alat dan kegagalan sistim kontrol
      • Pabrik peleburan melibatkan suhu tinggi, dan kegagalan fungsi peralatan atau panas berlebih dapat menyebabkan kegagalan yang sangat besar. Kegagalan peralatan, seperti kebocoran atau pecahnya tungku atau reaktor, dapat mengakibatkan ledakan
      • Inspeksi, pemeliharaan, dan pemantauan peralatan secara berkala sangat penting untuk mengidentifikasi dan mengatasi potensi masalah sebelum masalah tersebut menjadi lebih besar.
    • Pelatihan dan kesadaran karyawan:
      • Kesalahan manusia dapat menyebabkan kecelakaan smelter. Pelatihan yang tidak memadai, kurangnya kesadaran akan prosedur keselamatan, atau kegagalan dalam mengikuti protokol yang ditetapkan dapat menyebabkan situasi berbahaya.
      • Program pelatihan yang komprehensif untuk personel, kepatuhan yang ketat terhadap protokol keselamatan, dan pemantauan operasi yang berkelanjutan dapat membantu meminimalkan risiko insiden yang disebabkan oleh manusia.
    • Penanganan kondisi  darurat:
      • Dalam keadaan darurat, memiliki rencana tanggap darurat yang jelas sangatlah penting. Hal ini termasuk memiliki peralatan pemadam kebakaran yang sesuai, prosedur evakuasi, dan sistem komunikasi.
      • Latihan dan latihan rutin dapat memastikan bahwa personel memahami prosedur darurat dan dapat merespons secara efektif jika terjadi insiden
    • Kepatuhan terhadap peraturan keselamatan kerja:
      • Mematuhi peraturan keselamatankerja  lokal dan internasional sangat penting dalam pengoperasian smelter. Peraturan ini dirancang untuk menetapkan standar dan praktik keselamatan minimum yang membantu mencegah kecelakaan.
      • Audit dan inspeksi berkala untuk memastikan pekerja patuh terhadap peraturan keselamatan, cara ini  akan dapat mengidentifikasi potensi bahaya dan memastikan tindakan perbaikan yang dilakukan sesuai dengan peraturan.

    Faktor-faktor penyebab kecelakaan sebagaimana diuraikan diatas dapat dikontrol melalui peningkatan keselamatan kerja diantaranya; melalui tahapan engineering yang tepat, pemeliharaan peralatan pabrik yang berkualitas, pelatihan pekerja yang berkesinambungan, serta kepatuhan terhadap peraturan keselamatan oleh seluruh karyawan.

  • Penjelasan peran Interface Engineer pada pembangunan pabrik

    Penjelasan peran Interface Engineer pada pembangunan pabrik

    Interface engineer adalah salah satu jabatan pekerjaan di bidang pembangunan fasilitas produksi seperti kontruksi pabrik kimia, pabrik minyak dan gas, pabrik pengolahan mineral dan lain-lain. Peran interface engineer sangat penting untuk memastikan bahwa berbagai elemen proyek, seperti sistem, peralatan, dan proses, dapat berinteraksi dengan lancar dan beroperasi secara efektif.

    Berikut adalah beberapa aspek spesifik dari peran seorang interface engineer dalam industri konstruksi pembangunan pabrik minyak dan gas:

    1. Mengintegrasikan  sistem: Interface engineer di industri ini bekerja untuk mengintegrasikan berbagai sistem, subsistem, dan komponen suatu proyek. Hal ini termasuk memastikan bahwa sistem mekanis, kelistrikan, dan instrumentasi bekerja secara kohesif dan kompatibel satu sama lain
    2. Mengkoordinir vendor: Proyek konstruksi, minyak, dan gas sering kali melibatkan peralatan dan sistem dari berbagai vendor. Interface enginer memainkan peran penting dalam berkoordinasi dengan vendor untuk memastikan bahwa produk mereka terintegrasi dengan lancar ke dalam keseluruhan proyek.
    3. Membuat desain dan spesifikasi: Interface Engineer terlibat dalam fase desain, di mana mereka mengembangkan spesifikasi antarmuka yang menguraikan bagaimana sistem dan komponen yang berbeda harus berinteraksi. Ini termasuk menentukan protokol komunikasi, format data, dan titik integrasi.
    4. Menangani protokol komunikasi: Dalam proyek minyak dan gas, seringkali terdapat berbagai sistem kendali, sensor, dan peralatan yang perlu berkomunikasi. Interface enginer merancang dan mengimplementasikan protokol komunikasi untuk memfasilitasi pertukaran data dan mengontrol sinyal antara elemen-elemen yang berbeda ini.
    5. Memanajemeni resiko: Interface engineer menilai dan mengelola risiko yang terkait dengan integrasi sistem. Mereka mengidentifikasi potensi terjadinya resiko kegagalan, berupaya memitigasi risiko, dan mengembangkan rencana darurat untuk mengatasi masalah yang mungkin timbul selama konstruksi atau operasi.
    6. Mengawasi keamanan: Keselamatan adalah hal terpenting dalam industri minyak dan gas. Interface Enginer memastikan bahwa sistem terintegrasi memenuhi standar dan protokol keselamatan. Mereka juga mungkin terlibat dalam merancang interface yang memungkinkan penghentian darurat dan tindakan keselamatan lainnya
    7. Mengkoordinir multi disiplin Engineer : Interface engineer bekerja sama dengan manajer proyek, engineer dari berbagai disiplin ilmu, dan staff ahli lainnya untuk mengoordinasikan proses integrasi. Mereka memastikan bahwa jadwal pekerjaan terpenuhi, dan ketergantungan antara berbagai elemen proyek dikelola dengan baik.
    8. Memimpin pengujian dan komisioning: Interface engineer sering kali terlibat dalam aktivitas pengujian dan komisioning. Hal ini termasuk memvalidasi bahwa sistem terintegrasi berfungsi sesuai spesifikasi dan melakukan pengujian menyeluruh sebelum proyek memasuki tahap operasional
    9. Mengawasi dokumentasi: Seperti halnya peran teknik lainnya, dokumentasi sangatlah penting. Interface engineer menjadi coordinator dalam mendokumentasikan berbagai spesifikasi, prosedur pengujian, dan modifikasi apa pun yang dilakukan selama proses integrasi. Dokumentasi ini berfungsi sebagai referensi untuk pemeliharaan berkelanjutan dan proyek masa depan
    10. Mengawasi kepatuhan terhadap Peraturan: Dalam industri minyak dan gas, proyek harus mematuhi standar peraturan yang ketat. Interface enginer memastikan bahwa sistem terintegrasi mematuhi peraturan dan standar yang relevan.

    Secara keseluruhan, interface engineer dalam industri konstruksi, minyak, dan gas memainkan peran penting dalam memastikan keberhasilan integrasi beragam sistem dan komponen, berkontribusi terhadap keselamatan, efisiensi, dan keberhasilan proyek secara keseluruhan.

  • Temperature Transmitter Type Non-Invasive

    Temperature Transmitter Type Non-Invasive

    Temperature adalah besaran fisik yang secara kuantitatif menyatakan sifat panas atau dinginnya suatu bahan. Dalam industri, suhu merupakan salah satu variabel pengukuran yang penting untuk menghasilkan produk berkualitas tinggi.

    Pada umumnya sensor temperature diletakan di lokasi pengukuran dengan menggunakan bantuan komponen tambahan yang dapat mencegah media proses  tidak sampai keluar dari pipa proses atau dari tangki proses, komponen tersebut adalah termowell. Gambar termowell tampak dibawah ini:

    Engineering memang di ciptakan untuk mengatasi masalah, demikian pula berkaitan dengan masalah pengukuran temperature yang harus selalu menyediakan kondom pelindung berupa termowell, kemudian pabrik menciptakan alat ukur temperature tanpa harus menggunakan termowell, itulah temperature sensor yang di sebut non-invasive temperature sensor.

    Temperature transmitter type non-invasive merupakan sensor pengukur suhu tanpa kontak yang dapat mengukur suhu dengan  cara yang lebih mudah dan aman. Dengan sensor suhu type non kontak, pemasangan sensor dapat dilakukan tanpa perlu mematikan proses, mengebor lubang pada pipa, atau memasang thermowell. Sensor suhu non-invasif dipasang di bagian luar pipa dengan cara di clamp atau diikatkan pada pipa seperti tampak pada gambar di bawah ini;

    temperature transmitter

    Sensor suhu non-invasif, juga dikenal sebagai sensor suhu non-kontak atau inframerah, beroperasi berdasarkan prinsip mendeteksi radiasi inframerah yang dipancarkan suatu benda untuk menentukan suhunya. Sensor ini umumnya digunakan dalam berbagai aplikasi di mana metode berbasis kontak tradisional mungkin tidak praktis untuk digunakan.

    Prinsif Kerja

    Prinsip kerja sensor suhu non-invasif didasarkan pada kenyataan bahwa semua benda dengan suhu di atas nol mutlak memancarkan radiasi infra merah. Jumlah dan jenis radiasi yang dipancarkan sebanding dengan suhu benda. Sensor suhu non-invasif menggunakan detektor inframerah untuk menangkap radiasi yang dipancarkan dan mengubahnya menjadi sinyal instrument.

    Konstruksi temperature transmitter type invasive terdiri dari :

    1. Infrared Detector: Komponen ini mendeteksi radiasi infra merah yang dipancarkan oleh objek.
    2. Optical System: Komponen optic memfokuskan radiasi inframerah ke detektor
    3. Signal Processing Unit: Unit ini memproses sinyal listrik dari detektor dan mengubahnya menjadi pembacaan suhu.

    Kelebihan Transmitter Non Invasif

    1. Pengukuran Non-Kontak: Karena sensor ini beroperasi tanpa kontak fisik, sensor ini cocok untuk mengukur suhu benda bergerak atau dalam situasi di mana kontak dapat mempengaruhi keakuratan pengukuran.
    2. Waktu Respons Cepat: Sensor suhu non-invasif memberikan pembacaan suhu hampir seketika, menjadikannya ideal untuk aplikasi yang memerlukan data real-time.
    3. Higienis: Dalam aplikasi medis dan makanan, sensor ini menawarkan solusi higienis karena tidak memerlukan kontak langsung dengan objek yang diukur.
    4. Kebutuhan emergency: Sensor invasive juga sangat diperlukan bilamana pengukuran suhu pada pipa proses harus dilakukan sementara tapping point untuk memasang sensor biasa tidak tersedia.

    Kelemahan Temperature Transmitter Non Invasif

    1. Range pengukuran terbatas: Beberapa sensor suhu non-invasif memiliki rentang pengukuran terbatas dibandingkan dengan metode berbasis kontak
    2. Dipengaruhi oleh faktor lingkungan: Faktor seperti kelembapan, kondisi atmosfer, dan adanya penghalang dapat mempengaruhi keakuratan pengukuran
    3. Harga mahal: Sensor suhu non-invasif berkualitas tinggi bisa jadi relatif mahal dibandingkan termometer kontak tradisional
    4. Spesifikasi target harus akurat: Sensor ini mengukur suhu media tanpa kontak sehingga data mengenai spesifikasi pipa serta spesifikas media yang diukur harus tepat.

    Singkatnya, sensor suhu non-invasif memberikan solusi berharga untuk berbagai aplikasi, menawarkan keunggulan seperti pengukuran non-kontak, waktu respons cepat, dan penggunaan higienis. Teknologi sensor ganda dan algoritma perhitungan khusus memungkinkan perangkat ini dapat mengukur suhu secara akurat. Namun, alat ini juga memiliki keterbatasan, termasuk rentang pengukuran yang terbatas dan kepekaan terhadap faktor lingkungan serta akurasi pengukuran sangat bergantung pada  data media yang di masukan ketika proses engineering dilakukan.



  • Magnetic Circuit Breaker

    Magnetic Circuit Breaker

    Magnetic Circuit Breaker

    MCB adalah singkatan dari Magnetic Circuit Breaker yaitu perangkat yang digunakan untuk melindungi sirkuit listrik dari kelebihan arus atau korsleting yang dapat menyebabkan kerusakan pada peralatan listrik.
    MCB bekerja berdasarkan prinsip elektromagnetik atau termal, tergantung pada jenisnya. Ketika arus melebihi kapasitas yang ditentukan untuk MCB, perangkat ini akan secara otomatis memutus aliran listrik untuk melindungi peralatan dan mencegah bahaya.

    MCB umumnya digunakan dalam instalasi listrik rumah, gedung, dan industri sebagai perangkat proteksi utama dalam sirkuit listrik. Di pasaran Magnetic Circuit Breaker tersedia dalam berbagai kapasitas untuk dipergunakan sesuai dengan beban peralatan yang hendak dilindunginya.

    Adapun perhitungan kapasitas MCB diterangkan dengan rumus sbb:
    Kapasitas MCB 3 phase = √3 x I x V x PF / 1000

    Misalnya sebuah industri memasang sumber listrik dengan daya 15000watt (15Kw), tegangan 380volt, maka dapat dihitung berapa kapasitas  Magnetic Circuit Breaker yang sesuai sebagai pengaman pada sumber listrik dengan kapasitas sebesar itu. Pertama-tama hitung dulu jumlah arus maximum yang dapat dihasilkan dari sumber daya 15Kw 380 Volt, maka diperoleh hasil sbb:
    Arus listrik = Daya / (√3 x V x PF)
    Arus listrik = 15000 / (√3 x 380 x 0,8)
    Arus listrik = 18,49 A

    Setelah diketahui besarnya arus maksimum yang bisa mengalir pada jaringan tersebut, maka besarnya kapasitas MCB yang dibutuhkan dapat di hitung dengan rumus dibawah ini;

    Kapasitas MCB 3 phase = √3 x I x V x PF / 1000
    Kapasitas MCB 3 phase = √3 x 18,49 x 380 x 0,8 / 1000
    Kapasitas MCB 3 phase = 14,04 A





    Kontaktor
    Dalam ilmu listrik, kontaktor adalah suatu perangkat elektrikal yang berfungsi sebagai saklar atau switch untuk mengendalikan arus listrik yang besar. Kontaktor biasanya digunakan untuk mengontrol beban-beban listrik yang besar, seperti motor listrik, pemanas, atau peralatan industri lainnya.

    Kontaktor memiliki dua bagian utama: kontak dan kumparan elektromagnetik. Kumparan elektromagnetik digunakan untuk menghasilkan medan magnet yang dapat menarik atau melepaskan kontak, sehingga membuka atau menutup sirkuit listrik. Ketika kumparan elektromagnetik diaktifkan, kontaknya menutup dan mengizinkan arus listrik untuk mengalir melalui sirkuit. Sebaliknya, ketika kumparan elektromagnetik dimatikan, kontaknya terbuka dan memutus sirkuit listrik.

    Kontaktor sangat berguna dalam mengontrol peralatan listrik besar karena mereka dapat menangani arus yang tinggi dan dapat dioperasikan dari jarak jauh melalui sistem kendali otomatis atau manual. Mereka sering digunakan dalam sistem otomatisasi industri dan instalasi listrik besar untuk mengendalikan peralatan dengan efisien dan aman.



  • Kompensasi Flowrate Standar Terhadap Flowrate Normal

    Kompensasi Flowrate Standar Terhadap Flowrate Normal

    Flowrate adalah nama besaran laju alir dalam komposisi volume per satuan waktu atau berat per satuan waktu. Beberapa unit lainnya yang sering dipergunakan sebagai unit daripada flowrate contohnya l/h (liter per jam), kg/h (kilogram per jam), SCFH (standar kubik feet per jam), GPM (gallon per menit), CMBD (cubic million barel per day), m3/h (meter kubik per jam) dan masih banyak lagi. Artikel ini akan fokus membahas unit flow rate m3/h. Kita mengenal besaran flowrate m3/h dalam dua komposisi  yaitu flowrate Normal Nm3/h dan flowrate standar Sm3/h.

    Perbedaan Nm3/h dan Sm3/h

    Nm3/h (Normal meter kubik per jam) adalah besaran flowrate pada kondisi tekanan  standar dan suhu standar (STP). Suhu dan tekanan standar tersebut adalah 273.15 K (0°C) dan 101,325 kPa (1 atmosphere).

    Sm3/h (Standar meter kubik per jam) adalah besaran flowrate pada kondisi tekanan  dan suhu diluar kondisi standar tetapi dengan komposisi yang dikoreksi ke kondisi standar.

    Nm3/h sebagai pernyataan laju aliran  atau flowrate daripada gas pada kondisi standar banyak digunakan dalam industri di mana komposisi gas dan laju alirannya memerlukan hasil pengukuran yang akurat. Sementara Sm3/h adalah ukuran laju aliran gas pada kondisi suhu dan tekanan diluar kondisi standar tetapi dengan komposisi gas yang dikoreksi ke kondisi standar. Demikianlah perbedaan antara Nm3/h dengan Sm3/h. Untuk lebih memahami perbedaan daripada kedua satuan unit tersebut berikut ini diperlihatkan perbandingan berat daripada komponen oxygen pada suhu standar dan suhu diluar standar.

    flowrate standard

    Table di atas memperlihatkan hubungan kuantitas antara berat dengan volume pada tekanan yang tetap sedangkan  suhu mengalami kenaikan,  tampak bahwa untuk volume yang sama dengan adanya kenaikan suhu menyebabkan berat komponen menjadi turun.

    Apa yang terjadi jika kondisi tekanannya yang dinaikkan sementara suhu nya tetap, dari sifat kompresibility gas dapat dijelaskan hubungan kuantitas antara berat dengan volume pada suhu tetap dan tekanan naik maka berat komponen akan naik, karena dengan adanya kenaikan tekanan berarti gas dimampatkan, oleh karena itu beratnya menjadi naik.

    Ilustrasi hubungan suhu, tekanan dan berat yang dipaparkan di atas dimaksudkan agar kita bisa lebih mudah dalam memahami konversi unit Sm3/h ke unit  Nm3/h.

    Bila kita  analogikan besaran berat ke dalam besaran flowrate, maka efek daripada kenaikan suhu pada tekanan tetap akan menyebabkan flowrate berkurang dan sebaliknya efek daripada kenaikan tekanan pada suhu tetap akan menyebabkan flowrate bertambah.

    Flow kompensasi pada DP Flow transmitter

    Flow meter type differential pressure transmitter (DP transmitter) memerlukan sensor sebagai komponen yang dapat menghasilkan perbedaan tekanan, sensor tersebut dikenal sebagai orifice plate, ventury atau pitot tube. Sebagai alat instrumentasi pengukur, DP transmitter paling banyak di pergunakan dalam industri, karena keutamaannya yaitu murah, handal, dan mudah perawatannya, namun dari segi akurasi, transmitter type DP tidak lebih baik bila dibandingkan dengan flowmeter model lainnya seperti flowmeter type vortex atau flowmeter type coriolis. Salah satu kelemahan flowmeter DP pembacaan akhirnya merupakan hasil konversi sinyal yang disquare-rootkan , sedangkan type lain merupakan pembacaan langsung atau linear. Kelemahan lainnya flow meter DP tidak memiliki sensor suhu yang terintegrasi berbeda dengan vortex dan coriolis, kedua type flowmeter yang disebut belakangan itu bisa memiliki sensor suhu terintegrasi sehingga flowmeter bisa sekaligus melakukan pengukuran density.

    Dengan kelemahan tersebut, maka DP transmitter memerlukan instrumentasi tambahan berupa kalkulator seperti controller, DCS atau PLC yang dapat mengkonversi satuan Differential Pressure  menjadi tampilan flowrate. Kemudian transmitter DP juga membutuhkan instrumentasi tambahan berupa temperature transmitter dan pressure transmitter agar bisa melakukan konversi dari Sm3/h menjadi flowrate  Nm3/h.

    Bagaimana korelasi flow terhadap suhu dan tekanan diperlihatkan dalam rumus berikut ini

    Adapun penjabaran dari masing-masing elemen adalah sebagai berikut:

     

    Fo= Compensated flowrate (Nilai flowrate hasil kompensasi dengan tekanan dan suhu)
    Fi= Measured Flowrate (Sinyal besaran flowrate square root yang diukur oleh flow transmitter)
    Pr= Appropriate orifice design pressure (nilai tekanan berdasarkan desain orifice)
    Tr= Appropriate orifice design temperature (nilai suhu  berdasarkan desain orifice)
    P= Pressure measured by pressure transmitter ( sinyal hasil pengukuran oleh Pressure transmitter)
    T= Temperature measured by temperature transmitter ( sinyal hasil pengukuran oleh Temperature transmitter)
    Po= Correction factor for absolute pressure 1.01315 Bar (nilai tekanan absolut setara dengan 1.01315 bar)
    To= Correction factor for absolute temperature 273.15 Deg K (nilai suhu absolut setara 273.15 derajat kelvin)

    Elemen dengan warna merah adalah hasil perhitungan kompensasi
    Elemen dengan warna orange adalah sinyal yang diterima dari transmitter.
    Elemen dengan warna hijau adalah nilai yang diambil dari data sheet orifice
    Elemen dengan warna biru adalah nilai yang berlaku pada kondisi standar

    Contoh kasus:

    Sebuah transmitter DP diketahui memiliki range differential pressure 0 – 2500mmH2O equivalent dengan flowrate 0 –950000m3/h
    Data sheet orifice menunjukkan data-data sebagaimana terlihat pada gambar dibawah ini:

    flowrate standar Nm3/h

    Tercatat dari sizing orifice minimum flow 0 m3/hr dan maximum flow 950000 Nm3/hr. Desain suhu  dan tekanan 29°Celsius dan 57.27Bar Absolute.

    Jika diketahui delta P real time pada transmitter 625 mmH2O, Berapakah indikasi flowrate yang tampil di monitor ketika suhu proses 45°Celsius dan tekanan proses 60 BarG.

    Penyelesaian:

    Pertama kita harus hitung indikasi flow rate yang dikirim oleh transmitter yaitu nilai flowrate yang setara dengan DP  transmitter, diketahui DP transmitter 625 mmH2O, maka flowrate nya adalah F =   475000 m3/h. Penjelasan mengenai hubungan delta P terhadap flowrate di terangkan pada artikel https://www.jasaservis.net/orifice-dan-flowmeter/.html
    Dari keterangan soal dan potongan datasheet diketahui nilai elemen-elemen yang berpengaruh terhadap perhitungan flowrate kompensasi sebagai berikut:
    P= 60
    T= 45
    Po=1.01315
    To=273.15
    Fi= 475000
    Pr=56.26
    Tr=29

    Formula flow kompensasi secara default sudah tersedia pada controller yang memproses input, baik di DCS, PLC ataupun controller elektronik, sehingga parameter yang sesuai tinggal dimasukkan ke dalam formula tersebut. Parameter dengan nilai statis harus di input manual kedalam menu konfigurasi sedangkan parameter dengan nilai dinamis akan terlibat dalam kalkulasi secara otomatis.

    Flow rate kompensasi dari soal diatas diperlihatkan dalam hasil perhitungan di bawah ini:

    Adapun pada monitor akan di tunjukkan seperti pada graphic dibawah ini:

    flowrate standar Nm3/h




  • Mengenal sistem kendali BPCS dan SIS

    Mengenal sistem kendali BPCS dan SIS

    Dalam ilmu instrumentasi dan kontrol, BPCS dan SIS adalah dua sistem yang berbeda yang memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keamanan dan keandalan dalam operasi proses industri yang kompleks. Berikut adalah perbedaan antara SIS (Safety Instrumented System) dan BPCS (Basic Process Control System):

    Fungsi Utama:

    • SIS (Safety Instrumented System): SIS adalah sistem yang didesain untuk mendeteksi keadaan bahaya dalam proses industri dan memberikan tanggapan otomatis untuk mengurangi risiko dan mencegah terjadinya kecelakaan atau insiden yang berbahaya. SIS berfokus pada keamanan proses.
    • BPCS (Basic Process Control System): BPCS adalah sistem yang bertanggung jawab untuk mengontrol dan mengatur operasi normal dari proses industri. BPCS memantau dan mengendalikan variabel proses, seperti suhu, tekanan, aliran, level, dan lainnya untuk menjaga kualitas produk dan efisiensi proses.

    Tujuan dan Prioritas:

    • SIS: Tujuan utama dari SIS adalah keselamatan dan proteksi. SIS bekerja secara independen dari BPCS dan memberikan tanggapan cepat dalam situasi darurat untuk mencegah kejadian yang berbahaya.
    • BPCS: Prioritas utama dari BPCS adalah menjaga operasi normal dari proses dan mengoptimalkan kinerja proses. BPCS mengelola variabel proses untuk mencapai tujuan produksi dan efisiensi yang diinginkan

    Redundansi dan Keandalan:

    • SIS: SIS memiliki tingkat redundansi yang tinggi untuk memastikan keandalan sistem. Hal ini diperlukan untuk mengurangi risiko kegagalan dan pastikan sistem tetap berfungsi bahkan ketika ada kerusakan pada bagian tertentu.
    • BPCS: Meskipun BPCS juga dapat memiliki tingkat redundansi untuk beberapa komponen, keandalan bukanlah fokus utama BPCS seperti halnya SIS.
    • Standar Keamanan dan Desain:
      • SIS: Desain SIS harus mematuhi standar keselamatan yang ketat, seperti IEC 61511 atau ISA 84.01. Ini memastikan bahwa sistem memiliki tingkat integritas yang tinggi dan memenuhi persyaratan keselamatan industri.
      • BPCS: Meskipun BPCS juga harus mematuhi standar tertentu untuk performa proses, persyaratan keamanannya mungkin tidak seketat SIS.

    Respons terhadap Kejadian Darurat:

    • SIS: SIS harus merespons dengan cepat dalam kejadian darurat dan mengambil tindakan yang sesuai untuk menghentikan proses berbahaya atau mengurangi risikonya.
    • BPCS: BPCS cenderung memberikan respons yang lebih lambat daripada SIS karena fokus utamanya adalah pada pengendalian proses normal, dan tanggapannya mungkin tidak secepat SIS dalam situasi darurat.

    Hardware  yang digunakan dalam BPCS umumnya mencakup:

    • DCS (Distributed Control System): Sistem kontrol yang terdiri dari beberapa unit yang saling berhubungan untuk mengontrol proses secara terdistribusi.
    • PLC (Programmable Logic Controller): Seperti yang disebutkan sebelumnya, PLC juga digunakan dalam BPCS untuk mengontrol operasi proses tertentu.
    • Sensor: Seperti yang disebutkan sebelumnya, sensor digunakan untuk mengukur parameter proses.
    • Aktuator: Perangkat keras yang mengubah sinyal kontrol dari sistem ke tindakan fisik, seperti membuka atau menutup katup.




    Hardware yang digunakan dalam SIS umumnya meliputi:

    • PLC (Programmable Logic Controller): Komputer industri khusus yang digunakan untuk mengendalikan peralatan dan proses di lingkungan industri, termasuk SIS.
    • Sensor: Perangkat keras yang digunakan untuk mengukur parameter fisik, seperti tekanan, suhu, level, dan kecepatan aliran.
    • Logika keselamatan: Modul perangkat keras yang menjalankan algoritma keselamatan dan memutuskan tindakan yang diambil berdasarkan data dari sensor.
    • Final Element: Perangkat keras yang mengendalikan perangkat mekanis, seperti katup, untuk melakukan tindakan keselamatan.

    Penting untuk diingat bahwa kedua sistem ini bekerja bersama-sama dalam industri untuk mencapai tujuan keselamatan, keandalan, dan efisiensi proses yang optimal. SIS berfungsi sebagai lapisan tambahan untuk keselamatan, sedangkan BPCS bertanggung jawab untuk pengendalian operasi normal.