Prosedur Pemeliharaan Control valve

Salah satu tugas teknisi  instrument sebagaimana diuraikan dalam artikel “Tugas dan kewajiban teknisi instrumentasi” yaitu melakukan pemeliharaan peralatan instrumentasi terpasang. Kali ini admin akan menulis langkah-langkah referensi pada saat melakukan pekerjaan pemeliharaan control valve.

  • Sebelum pekerjaannya dimulai teknisi harus memperoleh surat ijin kerja atau lebih dikenal sebagai ‘Permit To Work’ yang menyatakan bahwa pekerjaan bisa dilakukan.
  • Dengan mengacu pada drawing P&ID, perhatikan point-point yang berkaitan dengan interlock control valve, dampak apa yang mungkin terjadi jika control valve dioperasikan, perhatikan apakah ada jalur by pass yang berfungsi sebagai jalur alternatif ketika control valve dalam pengerjaan, dan lain-lain
  • Setelah dipastikan aman untuk melakukan pekerjaan pada valve tersebut , maka status kontroler harus di ubah dari mode Otomatis ke mode Manual
  • Operator lapangan lalu mengisolasi control valve dan membuka jalur by pass agar control valve tidak lagi diperlukan karena aliran proses di pindahkan ke jalur by pass.
  • Dengan menggunakan instrument tool seperti HART 475 atau Hand Held Terminal lainnya periksa alarm yang ada pada positioner,  temukan dan atasi penyebabnya, setelah itu reset semua alarm hingga tidak ada lagi alarm, karena alarm menunjukkan adanya penyimpangan
  • Periksa seluruh perangkat yang terpasang , seperti kabel, tubing, dan aksesoris dari kerusakan atau penurunan kualitas, perbaiki jika ada
  • Periksa dan pastikan besarnya tekanan udara instrument sudah sesuai dengan kebutuhan control valve atau sama seperti yang tercetak pada “Name plate”
  • Periksa adanya kemungkinan bocor pada diaphragma, gland packing, atau tabung cadangan udara (jika ada), gland packing bisa dikencangkan demikian pula baud-baud yang kendor pada tutup diaphragm supaya dikencangkan.
  • Komunikasi dengan Operator yang dapat mengoperasikan control valve dari console. Minta Operator untuk membuka valve dengan posisi 0%, 25%, 50%, 75% dan 100%, perhatikan bagaimana reaksi valve terhadap perubahan posisi yang diminta, jika valve bergerak sesuai dengan perintah maka valve dikategorikan sebagai layak pakai, atau uji kehandalan lolos dan kegiatan pemeliharaan atau Preventive maintenance selesai
  • Jika ditemui ada penyimpangan maka langkah perbaikan harus dilakukan, biasanya penyimpangan terjadi karena valve sudah dipakai dalam jangka waktu lama sehingga ada bagian-bagian yang agak seret, untuk mengatasi hal  itu maka  langkah kalibrasi atau pengaturan tuning harus dilakukan. Setelah kalibrasi dan tuning dikerjakan lakukan kembali pengetesan pergerakan control valve dari console panel hingga diperoleh posisi control valve di lapangan sama dengan indikasi di layar kontroler. Aksi melakukan pengetesan dengan memberi perintah dari kontroler ini disebut “stroke check”
  • Pada saat stroke check dilakukan bila control valve memiliki indicator terpisah yang memberikan  sinyal daripada posisi  control valve ,maka fungsi indicator tersebut harus diperiksa juga. Demikian juga dengan terminasi kabel-kabel pada terminal valve harus di kencangkan.

Untuk memonitor agar pekerjaan dilakukan sesuai dengan procedure maka setiap kali melakukan pemeliharaan teknisi harus mengisi  table check list. Seperti apa contoh daripada checklist kegiatan pemeliharaan control valve silahkan download disini.

Simak  artikel terkait tentang macam-macam control valve dalam artikel “Macam-Macam Jenis Valve”




 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *